新闻是有分量的

BMKG:Gempa bumi besar di PNG tidak menimbulkan ancaman tsunami ke Indonesia

2016年12月17日下午9:16发布
2016年12月17日下午9:16更新

海啸。 Badan Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika(BMKG)memastikan potensi gelombang tsunami akibat gempa bumi 7,9 SR di Papua Nugini tidak akan dirasakan di Indonesia。 Ilustrasi oleh Rappler

海啸。 Badan Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika(BMKG)memastikan potensi gelombang tsunami akibat gempa bumi 7,9 SR di Papua Nugini tidak akan dirasakan di Indonesia。 Ilustrasi oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Peringatan gelombang海啸dikeluarkan untuk beberapa negara pada Sabtu,17 Desember usai gempa bumi 7,9 skala richter mengguncang Papua Nugini。 Walaupun sebelumnya Pusat Peringatan Tsunami Pasifik(PTWC)turut memasukan Indonesia sebagai yang kemungkinan terkena dampak tsunami,hal tersebut dibantah oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika(BMKG)。

“Berdasarkan hasil pemodelan tsunami yang dilakukan BMKG,海啸PNG tidak sampai ke wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat。 Sehingga,diharapkan masyarakat di Papua dan Papua Barat agar tetap tenang serta tidak perlu melakukan evakuasi,“ujar Balai Besar Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika wilayah V,Jayapura dalam keterangan tertulis。

BMKG juga mengimbau agar masyarakat yang berada di daerah pesisir Papua dan Papua Barat tidak terpancing isu karena tsunami yang terjadi tidak berdampak ke Tanah Air。

Gempa mengguncang 60公里ke区域timur Taron,新爱尔兰sekitar pukul 20:51 waktu setempat dengan titik kedalaman 75公里。 Sebelumnya,gempa bumi disebut berkekuatan 8,0 SR。 Tetapi kemudian diturunkan menjadi 7,9 SR。

美国地质调查局(USGS)menyebut secara keseluruhan,warga yang bermukim di daerah itu rentan dan dapat merasakan getaran gempa。

“Kemungkinan juga terdapat korban dan kerusakan,”tulis USGS dalam situs mereka。

Namun,dua negara lainnya yakni澳大利亚dan Selandia Baru tidak menganggap bahwa mereka akan terkena dampak serius dari gempa itu。 Hal itu terlihat dari data tingkat kedalaman gempa。

“地区Papua Nugini juga sangat terpencil dan memiliki populasi yang sedikit,”ujar seorang ahli gempa dari Geoscience Australia,Dan Jaksa。 - dengan laporan AFP / Rappler.com