新闻是有分量的

Topi Sinterklas:Fatwa MUI dianggap bisa memicu konflik水平

2016年12月20日下午5:11发布
更新于2016年12月20日下午5:11

Perajin menyelesaikan pembuatan patung Sinterklas di kawasan Jalan Arjuna,Kota Denpasar,Bali,Selasa(13/12)。 Foto oleh Fikri Yusuf / ANTARA

Perajin menyelesaikan pembuatan patung Sinterklas di kawasan Jalan Arjuna,Kota Denpasar,Bali,Selasa(13/12)。 Foto oleh Fikri Yusuf / ANTARA

SEMARANG,印度尼西亚 - Fatwa Majelis Ulama Indonesia(MUI)yang melarang seorang muslim mengenakan atribut agama lain,termasuk memakai topi sinterklas,menuai reaksi keras dari sejumlah tokoh agama。

Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal三宝垄,KH Nuril Arifin,misalnya menganggap fatwa terse但terlampau kelewat batas dan bisa memicu konflik horizo​​ntal。

Sebab fatwa tersebut ternyata digunakan sejumlah ormas untuk melakukan sweeping terhadap pemakai topi Sinterklas。

“Ini tidak benar。MUI hanya ormas,yang jadi masalahnya,apapun yang dilontarkan mereka,selalu dijadikan umpan bagi ormas melakukan tindakan yang memaksa orang lain,”kata pria yang akrab disapa Gus Nuril dalam对话Toleransi bukan Diskriminasi di kantor Gubernur Jawa Tengah,Selasa ,2016年12月20日。

Gus Nuril mengatakan fatwa MUI seharusnya hanya berlaku di internal agama Islam,bukan untuk untuk diterapkan dalam kehidupan bernegara。 “Fatwa MUI bukan aturan yang mengikat,”katanya。

Ia juga menyesalkan sikap polisi yang dianggap justru mengamankan fatwa MUI。 Polisi,Gus Nuril melanjutkan,seharusnya menindak tegas ormas yang melakukan席卷。

“Karena kalau dibiarkan akan dibalas anarkistis juga。 Dan lama-kelamaan jadi konflik水平。 Ini yang sangat berbahaya,“ujar Gus Nuril lagi。

Umat Nasrani tidak terprovokasi

牧师Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran,Romo Aloys Budi Purnomo,mengimbau umat Nasrani agar tidak terprovokasi dengan fatwa MUI yang memerintahkan penertiban pemakaian topi Sinterklas。

“Saya ajak umat supaya tidak terpancing,karena pada intinya topi Natal bukanlah simbol keagamaan.Kalau MUI mengeluarkan fatwa itu,kita hormati saja keputusan mereka sambil kita menjunjung tinggi hukum yang ditegakan di Indonesia,”paparnya。

Pihak gereja,kata Romo Budi,tak pernah memaksakan seseorang untuk memakai topi Sinterklas。 Hal yang sama juga diterapkan bagi pemilik perusahaan yang non Muslim。

“Kami tidak mengkhawatirkan soal sweeping topi Sinterklas。Yang penting tokoh agama hidup rukun dan berdampingan dengan baik.Mari kita tetap berpikiran positif.Tidak perlu terprovokasi,”tuturnya。

Di lain pihak,sejumlah warga Semarang saat ditemui Rappler secara terpisah mengaku tidak takut dengan adanya sweeping topi Sinterklas。 Widya Hapsari,warga Lamper Tengah menyatakan fatwa itu hanya untuk menakut-nakuti orang yang ingin merayakan Natal dengan sukacita。

“Dan razia-razia yang seperti itu tidak bikin saya keder.Yang ada kita malah ingin menunjukan kalau kita kompak merayakan datangnya Natal yang suci dengan cinta kasih dan penuh perasaan damai,”kata Widya。

Pengurus Gereja Paroki Krapyak双关语juga gegap gempita menyambut datangnya Natal tahun ini dengan memajang pohon Natal raksasa di dalam gerejanya。 Saat ini,belasan pemuda katolik setempat tengah menyebut pengerjaan pohon tersebut untuk ditampilkan saat ibadah misa nanti。 -Rappler.com