新闻是有分量的

Kemlu bantah proses izin ormas论坛Bhayangkara Indonesia

2016年12月23日下午7:33发布
2016年12月23日下午10:02更新

BANTAH。 Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri,Arko Hananto(paling kiri)membantah institusinya pernah memberi izin bagi ormas Forum Bhayangkara Indonesia。 Izin berdiri diberikan oleh Kemkum HAM。 Foto oleh Santi Dewi / Rappler

BANTAH。 Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri,Arko Hananto(paling kiri)membantah institusinya pernah memberi izin bagi ormas Forum Bhayangkara Indonesia。 Izin berdiri diberikan oleh Kemkum HAM。 Foto oleh Santi Dewi / Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Kekhawatiran publik terhadap invasioni Tiongkok ke印度尼西亚semakin menjadi-jadi ketika beredar surat keputusan dari ormas bernama论坛Bhayangkara Indonesia(FBI)yang mengangkat seorang warga Negeri Tirai Bambu sebagai penghubung(liason officer)。 Surat penunjukkan LO tertanggal 5 Mei itu kemudian beredar luas di media sosial。

Dalam foto surat penunjukkan itu,diketahui FBI mengangkat LO bernama Chen Shu。 Akibat beredarnya surat tersebut publik ikut mempertanyakan legalitas dari ormas FBI。

Sempat muncul persepsi bahwa FBI adalah ormas asing。 Hal itu karena 。

Namun,hal tersebut dibantah Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Kemlu,Arko Hananto Budiadi。 Dia menjelaskan,izin FBI justru diproses oleh Kementerian Hukum Hak Asasi Manusia(HAM)。 Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan Direktur Jenderal Politik dan Hukum Kementerian Dalam Negeri,Laode Ahmad P. Balombo yang menyebut FBI adalah ormas berbadan hukum。

“Sementara,yang terdaftar di Kemdagri adalah ormas yang tidak berbadan hukum tetapi sudah tercatat,”ujar Laode ketika dihubungi oleh Rappler pada Jumat,23 Desember。

Arko turut membantah warga Tiongkok bernama Chen Su sudah didaftarkan oleh FBI kepada Kemlu sebagai salah satu staf mereka。 Padahal,jika memang dipekerjakan,maka sesuai dengan aturan,FBI wajib mendaftarkan Chen Su ke Kemlu。

Keberadaan ormas asing diatur dalam UU Nomor 17 tahun 2013.Di sana tertulis,ada 3 jenis ormas asing yakni badan hukum yayasan asing,badan hukum yayasan nasional yang didirikan warga asing atau dibentuk warga asing dan warga Indonesia serta badan hukum nasional yang berbentuk yayasan tetapi memiliki kaitan dengan LSM asing。

“Kami ikut terlibat dalam dua kategori terakhir dalam kapasitas sebagai pemberi rekomendasi sebelum akhirnya disahkan oleh Kemkum HAM,karena ada kata'ashing'dan'warga asing',”tutur Arko ketika memberikan keterangan pers di Kemlu pada Jumat,23 Desember。

Namun,dia menekankan bahwa yang diberikan Kemlu hanya berupa rekomendasi。 Sedangan,izin untuk beroperasi dikeluarkan oleh tim perizinan yang terdiri dari beberapa kementerian terkait antara lain Kemlu,Kemhan,Kemdagri,Kemkeu,Setneg,Polri dan Kemkum HAM。

Fokus perkuat ekonomi

Lalu,apa sebenarnya ormas FBI ini? Menurut salah satu pendirinya,Rudiono Tanoto,ormas itu sudah dibentuk sejak tahun 2014 dan menjadi penghubung投资者Tiongkok dengan印度尼西亚。 Pria yang akrab disapa Rudi itu mengatakan FBI tidak berbisnis,melainkan hanya memfasilitasi anggota ormas atau sebuah perusahaan dengan投资者dari Negeri Tirai Bambu。

“Ada satu wadah bisnis yang memfasilitasi(模态投资者)。 Anggota FBI menjadi prioritas,misalnya,ada anggota FBI di Bogor mau membuat rumah sakit,maka akan kami carikan投资者bidang rumah sakit di Tiongkok,“ujar Rudi seperti dikutip 。

Dia mengaku saat awal didirikan FBI memang ingin memperkuat bidang ekonomi。 Sementara,terkait dengan penunjukkan Chen Su sebagai LO,Rudi menjelaskan tugasnya hanya untuk memproses投资者杨masuk。

“Jadi,tugasnya biasa saja。 Kalau sampai(di surat)tertulis sosialisasi,maka sudah keluar dari koridor。 Tapi,saya enggak tahu latar belakangnya(diberi tugas itu),“tuturnya。

Rudi menjelaskan Chen Shu sudah bukan lagi bagian dari FBI。 Dia dipecat tak lama setelah menerima surat pengangkatan sebagai LO。

Kendati mengakui sempat mempekerjakan warga asing,tetapi Rudi menepis FBI terkait dengan tuduhan-tuduhan konspiratif soal banyaknya pekerja Tiongkok ke Indonesia。 Pilihan untuk mencari投资者dari Tiongkok murni diambil karena logika ekonomi。

Sebagai ormas,jika merujuk kepada tujuan dari organisasi yang disebut Rudi maka kehadirannya cukup janggal。 Sementara,jika ditengok ke ,maka publik bisa melihat beberapa purnawirawan Polri ikut ditempatkan sebagai bagian dari jajaran pengurus。

Rudi juga menjelaskan sekretariat FBI yang berada di daerah Mangga Besar sempat didatangi oleh personil kepolisian。 Alasannya,mereka meminta penjelasan terkait penggunaan nama Bhayangkara。 Polisi keberatan nama Bhayangkara dicatut sebagai identitas ormas。

Dia mengatakan pengambilan nama Bhayangkara karena mereka membawa semangat Catur Prasetya dari kepolisian。 Sang Ketua Umum,Renny Mursantio disebutnya sebagai budayawan yang menciptakan semangat Catur Prasetya dari kepolisian。

“Kami punya pendirian yang sama yaitu menghayati filosofi Gajah Mada menata Indonesia ke depan,”katanya lagi。

Namun,Rudi menyebut Renny sudah meninggal sejak bulan September lalu。 Lokasi sekretariat双关语dipindah ke rumah Renny di area Karawaci,Tangerang。 Hingga saat ini belum ditunjuk siapa pengganti Renny sebagai Ketum。

Beri informasi yang benar

Dilibatkannya Chen Su di dalam ormas FBI sebagai LO memunculkan pertanyaan di benak publik,untuk apa mempekerjakan warga Tiongkok。 Hal itu semakin meyakinkan adanya invasioni tenaga kerja dari Negeri Tirai Bambu ke Indonesia。

Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI),Siti Zuhro mengatakan kekhawatiran mengenai invasioni tenaga kerja Tiongkok adalah sesuatu yang nyata,sebagai konsekuensi hubungan ekonomi kedua negara yang semakin mesra。 Menurut Siti,seharusnya pemerintah menjelaskan fakta apa risiko menjalin kerja sama ekonomi dengan Tiongkok。

“Bahwa di balik nota kesepahaman yang sudah ditanda tangani antara Indonesia dengan Tiongkok,mengisyaratkan投资者dari Tiongkok bisa membawa tenaga kerja baik 熟练的 dan 不熟练的 ke Tanah Air。 Fakta itu harus disampaikan,“ujar Siti ketika dihubungi Rappler melalui telepon pada Jumat,23 Desember。

Dia mengakui sudah melihat bantahan yang disampaikan oleh pemerintah soal membanjirnya tenaga kerja dari Tiongkok。 Tapi,menurutnya itu masih berupa ala kadarnya,sementara di lapangan fakta mengatakan hal berbeda。 (BACA: )

“Berikan lah informasi yang memadai,ketika menerima investasi dari Tiongkok berapa banyak tenaga kerja Tiongkok yang akan masuk ke Indonesia。 Isu ini perlu ditangani secara hati-hati karena permasalahan ini sensitif,apalagi tingkat pengangguran di Indonesia masih tinggi,“tutur peraih gelar doktor ilmu politik dari Curtin University,Australia。

Munculnya nama Chen Shu dalam ormas FBI yang kini ramai dibicarakan publik menjadi bukti nyata bahwa isu ini sangat sensitif。 Kekhawatiran lainnya dari publik dengan adanya invasioni tenaga kerja Tiongkok menurut Siti yakni masuknya ideologi yang dianggap tidak sejalan dengan Pancasila。

“Oleh sebab itu pemerintah harus bisa memberikan informasi yang benar kepada publik。 Dengan begitu mereka bisa dijaga dan terinformasikan dengan baik soal fenomena ini,“katanya lagi。 - dengan laporan Santi Dewi / Rappler.com