新闻是有分量的

Setya Novanto menghilang,bagaimana nasib Ridwan Kamil di Pilgub Jabar?

2017年11月16日下午5:37发布
更新时间2017年11月16日下午5:37

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto menyerahkan rekomendasi kepada Ridwan Kamil sebagai Calon Gubernur Gubernur Jawa Barat,Kamis(9/11)。 FOTO oleh ANTARA / Sigid Kurniawan

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto menyerahkan rekomendasi kepada Ridwan Kamil sebagai Calon Gubernur Gubernur Jawa Barat,Kamis(9/11)。 FOTO oleh ANTARA / Sigid Kurniawan

BANDUNG,印度尼西亚 - Partai Golkar telah memastikan dukungan mereka terhadap Ridwan Kamil sebagai calon gubernur di Pemilihan Gubernur(Pilgub)Jabar 2018. Surat Keputusan(SK)dukungan terhadap Wali Kota Bandung itu bahkan telah diserahkan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto pada Kamis,11月9日2017年。

Namun saat ini Partai Golkar sedang menghadapi masalah terkait Setya Novanto yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi KTP elektronik oleh KPK。 Ketua DPR RI itu juga menghilang saat KPK berniat menjemput paksa Novanto di kediamannya di Jalan Wijaya Kebayoran Baru Jakarta。

Lalu,apakah kasus Setya Novanto ini akan berpengaruh pada elektabilitas Ridwan Kamil?

Pengamat Politik Firman Manan menilai kasus Setya Novanto tidak akan berpengaruh pada elektabilitas Ridwan Kamil。 Sebab,karakter pemilih di setiap pilkada,lebih mementingkan figur daripada partai politik。

“Seringkali partai itu tidak terlalu penting bagi pemilih,sepanjang figur itu dianggap layak,punya kualitas personal,lalu kemudian punya visi misi program yang baik。 (Kriteria)itu lebih penting bagi pemilih,dibandingkan partai politik,“kata Firman saat dihubungi Rappler,Kamis,2017年11月16日。

Firman sendiri percaya,sebagai partai politik yangmatang¸Golkarmampu mengatasi persoalan-persoalan interna mereka。 Merujuk pada pengalaman sebelumnya,Firman memperkirakan Golkar akan meninggalkan Setya Novanto,jika dianggap membebani partai。

精英Partai Golkar kemudian akan melakukan perombakan struktur organisasi untuk membuktikan ke masyarakat bahwa partai berlambang pohon beringin ini mendukung pemberantasan korupsi。

“Kalau kita persepsikan Setnov ditahan,Golkar akan mengambil langkah strategis kemudian menonaktifkan Setnov。 Dengan Setnov sudah tidak jadi bagian dari elite Golkar,seharusnya tidak berpengaruh terhadap Kang Emil,“ujar pengamat politik dari Universitas Padjajaran itu。

Firman juga mengingatkan,pelaksanaan Pilgub Jabar masih sekitar 7 bulan ke depan,sehingga kalaupun kasus Setya Novanto ini berpengaruh pada elektabilitas Ridwan Kamil,masih banyak waktu untuk recovery

“Pemilihannya juga masih panjang,7 bulan lagi。 Jadi,kalau sekarang kasus Setya Novato itu berpengaruh pada elektabilitas Ridwan Kamil,itu akan recover dalam waktu yang tidak lama lagi,“ungkap Firman。

Sementara itu,pengamat politk dari Universitas Parahyangan,Asep Warlan Yusuf berpendapat kasus korupsi Setya Novanto akan berpengaruh pada elektabilitas Ridwan Kamil,jika Golkar melakukan pembelaan yang tidak rasional terhadap pria yang belakangan ini disebut“Papa。”

“Kalau tokoh-tokoh elite Golkar mati-matian membela Setya Novanto dengan cara tidak proporsional,pokoknya dibela apapun salahnya,maka Golkar akan kehilangan simpati,sangat kehilangan simpati。 Dan itu akan berpengaruh terhadap elektabilitas Ridwan Kamil,“ujar Asep。

Agar hal itu tidak terjadi,lanjut Asep,Golkar harus bisa memisahkan antara kasus Setnov dengan kebijakan Golkar yang pro terhadap pemberantasan korupsi。 Menurut Asep,Golkar bisa belajar pada Partai Keadilan Sejahtera(PKS)yang menghadapi masalah serupa saat Pilgub Jabar 2013。

Kala itu,Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq(LHI)ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi impor daging sapi saat Ahmad“Aher”Heryawan yang merupakan kader PKS sedang bertarung di Pilgub Jabar。 Namun Aher berhasil memenangkan Pilgub Jabar 2013 tanpa terpengaruh oleh kasus korupsi Luthfi。

“PKS itu lepas dari kasus LHI dan konsentrasi di pilkada-pilkada。 Jadi tergantung dari Golkarnya。 Kalau Golkar cukup proporsional dan tetap komit pada pemberantasan korupsi,aman,“ucap Asep yang juga pakar hukum tata negara ini。 -Rappler.com